Dampak Lingkungan Akibat Penambangan Liar Di Tambang Emas Gunung Botak Kabupaten Buru Provinsi Maluku
Koreksi News
... menit baca
Penulis: Amirudin Soamole
Kepala Divisi KoreksiNews Provinsi Maluku
Pertambangan merupakan salah satu sektor yang penting dalam pembangunan ekonomi, tetapi aktivitas Penambangan diduga memiliki dampak yang signifikan terhadap lingkungan, Baik dari Sisi Kerusakan Lingkungan Serta Naik nya Harga Sembilan Bahan Pokok secara menggila dan juga Langkanya Bahan Bakar Minyak (BBM) Baik untuk Kendaraan Bermotor Maupun Transportasi Laut dan Darat Hingga Menjalar Ke Minyak Tanah.
Tambang Emas Gunung Botak di temukan dari Tahun 2010, tepatnya 2011 ini di olah secara membabi buta oleh ribuan orang yang tentunya dari orang orang tersebut diduga ada pembekingan yang membuat para penambang nyaman dalam mengoperasikan tambang secara Ilegal.Tidak terasa kini sudah 15 tahun Gunung Botak di Exploitasi secara ilegal tanpa adanya upaya-upaya pelestarian lingkungan dan lain lain dan sudah 15 Tahun sudah masyarakat Kabupaten Buru hidup dalam tekanan ekonomi, betapa tidak minyak tanah yang sejati nya harga eceran tertinggi (HET) per liter seharusnya Rp 2,275,s/d 5000, mirisnya masyarakat Kabupaten Buru harus merogeh kocek per liter mulai dari Rp 8000 hingga Rp. 10,000 perliter, Miris memang.
Sudah begitu para mafia minyak mengantri dan menimbun seakan-akan itu semua sah di mata Hukum, terlepas dari minyak Tanah, Bahan Bakar Minyak Petralite DextaLite Solar dan lainnya, semua diduga telah di ambil alih oleh para mafia, ditambah lagi, SPBU tidak ada satupun yang buka 24 jam penuh, lengkap sudah penderitaan masyarakat Kabupaten Buru.Berikut Ini ada beberapa dampak lingkungan akibat kegiatan pertambangan Gunung Botak di Kabupaten Buru.
1. Kerusakan Ekosistem dan HabitatKegiatan pertambangan sering kali membutuhkan pembukaan lahan dalam skala besar, yang menyebabkan kerusakan hutan dan ekosistem. Kehilangan habitat ini berdampak pada keanekaragaman hayati karena banyak flora dan fauna kehilangan tempat tinggal .
2. Pencemaran AirPertambangan dapat mencemari sumber air melalui limbah tambang yang mengandung bahan kimia berbahaya seperti merkuri, sianida, dan logam berat. Contohnya, limbah tambang dapat mengalir ke sungai atau sumur warga, menyebabkan pencemaran air yang berdampak pada kesehatan manusia dan ekosistem perairan.
3. Degradasi TanahEksploitasi tambang merusak struktur tanah sehingga lahan menjadi tandus dan tidak subur. Proses seperti penambangan terbuka (open-pit mining) dapat menyebabkan erosi dan sedimentasi yang mengurangi produktivitas tanah hingga berdampak Pada Pohon Sagu dll.
4. Pencemaran Udara
Proses penambangan, seperti penggalian, dan transportasi material tambang, menghasilkan debu dan emisi gas berbahaya seperti karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan sulfur dioksida (SO₂). Hal ini dapat mengganggu kualitas udara serta berdampak pada kesehatan masyarakat sekitar.
5. Perubahan Iklim Lokal
Deforestasi akibat tambang dan emisi gas rumah kaca dari aktivitas tambang berkontribusi pada perubahan iklim lokal, seperti meningkatnya suhu dan menurunnya curah hujan di sekitar wilayah tambang.
6. Gangguan Sosial dan Ekonomi
Selain dampak lingkungan, pertambangan juga dapat memicu konflik sosial, seperti perebutan lahan, kehilangan mata pencaharian tradisional, dan permasalahan kesehatan masyarakat akibat pencemaran lingkungan.
Solusi Untuk Mengurangi Dampak
Untuk mengurangi dampak lingkungan akibat pertambangan, diperlukan langkah-langkah seperti:
Reklamasi Lahan: Mengembalikan lahan bekas tambang menjadi produktif atau menyerupai kondisi aslinya.
Pengelolaan Limbah yang Baik: Menggunakan teknologi untuk meminimalkan limbah tambang dan mencegah pencemaran.
Penegakan Regulasi: Pemerintah harus mengawasi dan menegakkan aturan lingkungan bagi bila perlu di segerakan perusahaan tambang.
Penggunaan Teknologi Ramah Lingkungan: Seperti pengolahan tanpa bahan kimia berbahaya dan memanfaatkan energi terbarukan dalam operasi tambang.
Dengan pengelolaan yang bijak, dampak negatif pertambangan terhadap lingkungan dapat diminimalkan, sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
"Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan sikap pribadi penulis dan bukan cerminan sikap Redaksi."
Sebelumnya
...
Berikutnya
...





