Bincang Santai Kang Juna Bersama Plt Kadis Prindagkop & UKM Samsul Bahri, S.Pd., M.Ap: Mengupas Tuntas Progres Pembentukan KDMP di Gayo
Koreksi News
... menit baca
GAYO LUES // KoreksiNews - Dalam suasana santai namun sarat informasi, Kang reporter Seputar Gayo Lues melakukan bincang langsung dengan Plt Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Prindagkop) Gayo Lues, Samsul Bahri, S.Pd., M.Ap di ruang kerjanya. Pertemuan ini membahas perkembangan terkini Program KDMP (Koperasi Merah Putih) yang digagas Presiden Prabowo Subianto sebagai upaya penguatan ekonomi kerakyatan hingga ke tingkat desa. Kamis(20/11/2025).
Dalam pertemuan tersebut turut hadir Kepala BNNK Gayo Lues Fauzul Iman, Ucok selaku pengamat media sosial, serta Sekretaris Disprindagkop, yang ikut menyimak jalannya dialog terkait progres program strategis nasional ini.
Samsul Bahri menyampaikan bahwa hingga saat ini sebanyak 136 KDMP telah terbentuk di Kabupaten Gayo Lues. Keberlangsungan operasional dan pendampingan aktif dilakukan oleh Kabid Koperasi, PMO (Project Management Officer), serta para pendamping program.
Menurutnya, salah satu agenda terdekat adalah sosialisasi dan pembekalan pada bulan Desember 2025, yang disiapkan untuk meningkatkan kualitas SDM dan memperkuat pemahaman pengelola KDMP mengenai tata kelola koperasi yang modern dan berbasis digital.
Walau pembentukan organisasi KDMP telah mencapai 100%, namun proses pembangunan gerai fisik masih menghadapi sejumlah kendala.
“Masih banyak desa yang belum menyediakan lahan untuk pembangunan gerai KDMP,” ujar Samsul. Dari 136 koperasi, saat ini baru Desa Ulun Tanoh yang telah memulai proses pembangunan gerai. Sementara itu, satu desa lainnya seharusnya sudah memulai pembangunan, namun masih terkendala penyelesaian sejumlah dokumen dan persuratan.
Keterlambatan penyediaan lahan ini menjadi faktor utama yang mempengaruhi percepatan pembangunan fisik dan operasional gerai KDMP di lapangan.
Selain persoalan lahan, ketersediaan SDM yang menguasai teknologi digital menjadi tantangan besar. Banyak pengurus koperasi di tingkat desa belum memiliki kemampuan IT yang memadai, sementara sistem operasional KDMP dirancang berbasis digital dan terintegrasi secara nasional.
Kendala jaringan internet di beberapa desa juga ikut menghambat, terutama di desa-desa terpencil seperti Lesten dan Tongra, yang hingga kini masih kesulitan akses komunikasi dan internet.
Ketika ditanya mengenai respons masyarakat terhadap kehadiran KDMP, Samsul menegaskan bahwa masyarakat Gayo Lues sejauh ini masih menerima dan mendukung keberadaan KDMP sebagai upaya memperkuat ekonomi desa.
Terkait indikasi resistensi dari pelaku usaha lain seperti gerai sembako, ia menjelaskan bahwa belum ada laporan signifikan mengenai usaha lain yang merasa dirugikan. Justru, keberadaan KDMP diyakini akan membuka peluang kolaborasi dan memperluas rantai pasok produk lokal.
Begitu pula mengenai potensi konflik sosial, ormas, atau pihak yang berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi desa, Plt Kadis memastikan belum ada gejolak atau gesekan di lapangan. Semua pihak sejauh ini mendukung langkah pemerintah pusat dalam memperkuat ekonomi akar rumput.
Plt Kadis juga meluruskan persepsi sebagian masyarakat yang mengira KDMP hanya sebatas koperasi simpan pinjam. Ia menegaskan bahwa model usaha KDMP jauh lebih luas, mulai dari:
Penampungan dan pemasaran komoditas pertanian dan perkebunan, Penguatan rantai pasok desa, Pendukung gerai kebutuhan pokok, Hingga usaha-usaha produktif lain yang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat desa.
“KDMP bukan koperasi simpan pinjam. Ia hadir sebagai pusat ekonomi desa yang mampu menggerakkan perdagangan dan komoditas lokal,” tegasnya.
Samsul Bahri mengakui bahwa sebagian masyarakat masih mempertanyakan implementasi KDMP yang dianggap lambat. Keluhan terkait lahan, kejelasan usaha, dan kesiapan SDM menjadi masukan yang terus dikumpulkan dan akan dibahas dalam agenda sosialisasi Desember mendatang.
Ia juga menekankan pentingnya peran masyarakat desa untuk menyediakan lahan, mendukung proses pembangunan gerai, serta berperan aktif dalam memajukan koperasi yang nantinya menjadi milik bersama.
Melalui dialog santai tersebut, tergambar bahwa Kabupaten Gayo Lues memiliki progres positif namun masih menghadapi berbagai tantangan dalam memaksimalkan program KDMP. Pemerintah daerah berharap adanya sinergi antara perangkat desa, masyarakat, dan pendamping agar percepatan pembangunan bisa terwujud sesuai target nasional.
Kang Juna menutup bincang santai ini dengan harapan bahwa KDMP di Gayo Lues dapat menjadi motor penggerak ekonomi desa yang mandiri, modern, dan membuka lebih banyak peluang kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.(Reporter - Kang Juna)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi."
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
