E8lLixHRDGb1xRnfaGQAOqap3MrzuUX2KzUNPsqv
Bookmark

The Power of Empathy: Ini Alasan Yusman Dawolo Gemar Berbagi dan Posting di Medsos

Bagi sebagian
orang, media sosial adalah panggung untuk memamerkan kemewahan. Namun bagi Dr. H.C. Yusman Dawolo, M.Kom.I atau yang akrab disapa Bang YD, jagat maya adalah mimbar untuk menyebarkan "virus" kebaikan. Lewat layarnya, ia ingin menyalakan kembali harapan bagi mereka yang hampir menyerah pada takdir.

Putra asli Nias yang kini sukses menaklukkan Ibu Kota Jakarta ini tidak pernah lupa daratan. Di balik setelan jas rapinya hari ini, ada jejak masa lalu yang penuh air mata, peluh, dan perjuangan berdarah-darah melawan kemiskinan.

Lahir dari Rahim Kesulitan, Dibentuk oleh Badai

Bang YD lahir dan besar di Pulau Seriwau, sebuah pulau kecil di Nias, Sumatera Utara. Tumbuh sebagai anak seorang nelayan bermarga Dawolo dan ibu petani bermarga Telaumbanua, kata "cukup" adalah kemewahan yang jarang ia temui.

"Kami sering sekali kelaparan, hanya makan singkong diptong-potong kecil dicampur dengan sedikit nasi. Kadang kami juga hanya makan sagu. Kalau musim badai tiba, Bapak tidak bisa melaut. Kami bahkan tidak bisa menyeberang badai sekadar untuk membeli beras ke daratan di Desa Sawe," kenang Bang YD, mengingat masa lalunya.

Namun, di tengah himpitan ekonomi, orang tuanya punya tekad yang kuat dan mimpi besar: Yusman tidak boleh bernasib seperti nelayan sebagaimana yang dialaminya selama ini. Yusman harus sekolah. Terlebih Yusman adalah anak pertama yang akan menjadi harapan keluarga dari delapan bersaudara.

Demi masa depan, setamat SD Bang YD harus rela berpisah dengan orang tua untuk merantau demi pendidikan. Ia bersekolah di SMP ST. Theresia Lahewa, lalu melanjutkan ke MAN Gunungsitoli sambil menumpang di rumah saudara.

Di sinilah mental bajanya ditempa. Sejak remaja, ia sudah akrab dengan kerja kasar. Menjadi kenek kuli bangunan bersama pamannya, memotong ayam di Pasar Nou, berjualan di pasar pekan (Harimbale), hingga menjadi buruh di bengkel mebel adalah makanan sehari-harinya.

Tahun 2005, gempa bumi dahsyat mengguncang Nias. Di balik duka musibah itu, sebuah pintu takdir terbuka. Bang YD mendapatkan beasiswa kuliah ke Jakarta. Kesempatan emas ini ia sambar tanpa ragu.

Ia merantau ke Jakarta, menyelesaikan S1 Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) di STID M. Natsir. Haus akan ilmu, ia melanjutkan studi S2 di Universitas As-Syafi'iyah Jakarta, dan mendapatkan gelar Magister Komunikasi Islam, hingga akhirnya dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa (Dr. H.C.) dari UIPM Malaysia atas dedikasi dibidang sosial dan pendidikan. 

Jejak Pengabdian: Dari Pelosok Maluku hingga Menjadi Pengusaha Sukses

Setamat S1, jiwa sosial Bang YD langsung diuji. Ia ditugaskan mengajar di pelosok Pulau Seram Bagian Timur (SBT), Maluku. Di sana, ia tidak sekadar berdiri di depan kelas, tapi juga memutar otak untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.

Hebatnya, Bang YD berhasil mengorganisasi Panen Raya dan meyakinkan Bupati SBT saat itu untuk membangun jalan sepanjang 50 km, menghubungkan desa tempatnya bertugas langsung ke Kota Bula. Ia juga merintis SMP gratis bagi anak yatim dan kurang mampu di sana. Atas dedikasi luar biasa ini, pada tahun 2011 ia dinobatkan sebagai Pengajar Pengabdian Terbaik di Daerah Pedalaman oleh almamaternya.

Sepulang dari Maluku, Bang YD mulai terjun ke dunia bisnis. Jatuh bangun ia lalui hingga akhirnya sukses mendirikan YD Group, sebuah konglomerasi yang kini menaungi beberapa perusahaan dan memperkerjakan ratusan karyawan.

Kenapa Bang YD Suka Berbagi dan Mempostingnya di Media Sosial?

Banyak orang bertanya-tanya: Kenapa seorang pengusaha sesibuk Bang YD masih mau turun langsung ke lapangan? Membagikan beras, membantu biaya pengobatan, memberi modal usaha, menolong korban kebakaran, lalu mempostingnya di media sosial?

Jawabannya sederhana namun menohok: Ini bukan tentang pamer (riya), tapi tentang empati dan edukasi.

1. Merasakan Apa yang Mereka Rasakan (The Power of Empathy)

Sebagai anak nelayan yang dulu kenyang dengan rasa lapar, Bang YD tidak perlu membayangkan rasanya jadi orang susah karena dia pernah berada di posisi mereka.

Saat membagikan beras, ia melihat dirinya di masa kecil yang kelaparan saat badai.

Saat menyekolahkan ratusan anak-anak dari Gunungsitoli dan Nias, serta mendirikan SMP untuk anak-anak yatim dan dhuafa gratis di Bogor, ia ingat betapa berdarah-darahnya ia mengakses pendidikan dulu.

Saat membangun kembali Masjid Al-Furqon yang terbengkalai pada tahun 2014, ia paham betul bahwa masyarakat butuh tempat yang layak untuk bersujud.

2. Media Sosial sebagai Alat Penular Kebaikan

Bang YD sadar betul bahwa media sosial adalah pengeras suara yang luar biasa di era digital. Alasan ia aktif mendokumentasikan aksi sosialnya adalah:

Memotivasi Generasi Muda: Ia ingin menjadi bukti hidup bahwa anak miskin dari pulau terpencil pun bisa sukses di Ibu Kota jika mau kerja keras dan mengandalkan Tuhan. "Gagal" bukan alasan untuk berhenti.

Mengetuk Hati Orang Kaya Lain: Lewat aksi nyata yang terlihat di lini masa, ia berharap para pengusaha dan orang-orang berpunya lainnya tergerak untuk ikut mengulurkan tangan.

Pesan Inspiratif dari Kisah Bang YD

Kisah Dr. H.C. Yusman Dawolo adalah bukti nyata bahwa asal-usulmu tidak pernah menentukan masa depanmu.Badai kehidupan di Pulau Seriwau tidak menenggelamkannya, melainkan menempa dirinya menjadi seorang nakhoda yang tangguh.

Kini, setelah sukses menggenggam Ibu Kota, hatinya tetap tertambat pada tanah kelahirannya, Pulau Nias, dan masyarakat kecil yang membutuhkan.

Bang YD mengingatkan kita semua: puncak tertinggi dari sebuah kesuksesan bukanlah seberapa banyak harta yang kita kumpulkan untuk diri sendiri, melainkan seberapa luas manfaat yang bisa kita bagikan kepada sesama.
"Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan sikap pribadi penulis dan bukan cerminan sikap Redaksi."
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar
𝐀𝐩𝐚 𝐓𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐝𝐚??