Dana Operasional Harian Belum Cair, Enam SPPG di Kecamatan Kadungora Garut Berhenti Beraktivitas
Koreksi News
... menit baca
GARUT // KoreksiNews - Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Garut, Jawa Barat, kini tengah didera hambatan serius. Sebanyak enam titik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kecamatan Kadungora terpaksa menghentikan seluruh aktivitas operasional mereka sejak awal pekan ini.
Berdasarkan pantauan langsung tim Koreksi News di salah satu titik penyiapan makanan di Desa Karangmulya, suasana dapur yang biasanya ramai oleh aktivitas memasak dan pengemasan logistik kini tampak sepi dan lengang. Tidak ada satu pun petugas maupun aroma masakan yang tercium dari fasilitas pemenuhan gizi anak sekolah tersebut.
Pihak pengelola SPPG setempat mengonfirmasi bahwa penutupan sementara ini terpaksa dilakukan karena dana operasional harian dari Badan Gizi Nasional (BGN) belum kunjung dicairkan. Akibatnya, pengelola kehabisan modal untuk membeli bahan baku pangan esensial seperti sayur, telur, beras, dan kebutuhan logistik harian lainnya.
Camat Kadungora, Muhamad Badar Hamid, membenarkan situasi macetnya operasional program strategis ini. Ia menyebutkan ada enam titik dapur SPPG yang bernasib sama di wilayah kerjanya, meliputi wilayah pelayanan Dapur Karangmulya, Dapur Rancasalat, Dapur Pisaat, Dapur Jeladri, serta dua titik pusat pelayanan lainnya.
"Masalah utamanya murni karena anggaran belum cair dari pusat, sehingga pengelola di lapangan tidak bisa menyediakan bahan baku dan menutup biaya operasional," ujar Badar saat dikonfirmasi media.
Berhentinya operasional dapur pemenuhan gizi ini tidak hanya memicu kekecewaan publik, tetapi juga menyisakan kecemasan mendalam bagi para pekerjanya. Sejumlah pegawai mengaku bimbang dan dihantui rasa takut jika program ini akan berhenti untuk selamanya.
Salah seorang pegawai MBG, Diky, mengungkapkan rasa gundahnya saat ditemui di lapangan. Ia mengaku sangat mengandalkan pekerjaan ini demi menyambung hidup keluarga.
"Kami semua bimbang dan takut kalau penutupan ini jadi permanen atau berhenti selamanya. Di zaman sekarang sangat susah mencari pekerjaan baru. Kami sangat berharap program ini segera berlanjut dan dapur bisa ngebul lagi," keluh Diky dengan nada penuh harap.
Dampak langsung dari mandeknya operasional enam dapur ini juga langsung dirasakan oleh para pelajar di sekolah-sekolah penerima manfaat. Untuk sementara waktu, para siswa tidak lagi menerima jatah kotak makan siang gratis yang biasa mereka dapatkan setiap hari sekolah.
Pihak otoritas kecamatan menambahkan, hingga saat ini belum ada skema atau rencana darurat untuk mengalihkan pemenuhan makan para siswa ke dapur SPPG di kecamatan lain. Hal itu dikarenakan sistem perencanaan kuota logistik dan jalur distribusi harian antar-wilayah memerlukan pengaturan teknis mendalam yang tidak bisa diubah secara mendadak.
Di sisi lain, publik terus menyoroti kesinambungan program nasional ini mengingat kejadian serupa tidak hanya terjadi di Garut, melainkan merembet ke beberapa wilayah lain di Indonesia. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dalam keterangan terpisahnya sempat menyatakan bahwa kendala penutupan sementara di sejumlah daerah umumnya sedang ditinjau, di mana sebagian besar disebabkan oleh kendala teknis administrasi maupun penyesuaian standar operasional prosedur (SOP) di lapangan.
Pemerintah Kecamatan Kadungora mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua siswa, guru, dan para pekerja dapur, untuk bersabar menunggu proses pencairan reguler diselesaikan oleh pihak BGN pusat. Diharapkan pasokan dana operasional segera turun dalam waktu dekat agar pemenuhan gizi anak-anak sekolah dan roda ekonomi para pekerja di Garut dapat kembali berjalan normal.
Liputan: Yayan Sopian SE / Gun gun
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi."
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
