E8lLixHRDGb1xRnfaGQAOqap3MrzuUX2KzUNPsqv
Bookmark

Demi Menuntut Ilmu, Siswa di Darul Hasanah Bertaruh Nyawa Setiap Hari Lewati Jembatan Darurat Untuk ke Sekolah

ACEH TENGGARA // KoreksiNews
-  Ribuan siswa dari Kecamatan Darul Hasanah, Kabupaten Aceh Tenggara, terpaksa bertaruh nyawa setiap hari demi bisa pergi ke sekolah. Mereka harus mengantre panjang untuk melewati jembatan darurat yang kondisinya sangat memprihatinkan.

Akibat antrean yang mengular bersama warga lainnya, banyak siswa yang terlambat bahkan gagal menghadiri proses belajar-mengajar karena tidak sempat menyeberang.

Jembatan gantung seadanya ini kini menjadi satu-satunya jalur alternatif yang diandalkan belasan ribu warga. Tidak hanya penduduk Darul Hasanah, warga dari Kecamatan Babussalam dan Kecamatan Badar pun sangat bergantung pada akses ini, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari. Wilayah Darul Hasanah sendiri berada di seberang Sungai Kali Alas, kawasan yang selama ini memang menjadi langganan bencana alam banjir dan tanah longsor.

Bencana yang terjadi pada Jumat (16/10/2026) ini menjadi momen kelam yang menorehkan duka mendalam dan berkepanjangan bagi puluhan ribu warga di beberapa kecamatan tersebut.

Sebelumnya, akses transportasi dan urat nadi perekonomian warga disokong oleh dua unit jembatan rangka baja di kawasan Natam dan Mbarung. Jembatan tersebut menghubungkan warga Darul Hasanah menuju Kecamatan Badar dan Babussalam, serta sebaliknya. Namun, ganasnya arus Sungai Kali Alas telah menyapu bersih kedua jembatan vital itu hingga tak tersisa.

Ambruknya infrastruktur utama ini praktis membuat sebagian besar dari 28 Kute (Desa) di Kecamatan Darul Hasanah terisolir dan terperangkap dari akses luar.

Dampak sosial dan ekonomi kini mulai mencekik warga. Para siswa, Aparatur Sipil Negara (ASN), dan masyarakat umum yang ingin menuju ke Kecamatan Babussalam kini kesulitan karena jalur tersebut sudah tidak bisa lagi dilalui kendaraan roda empat.

Jika ingin menggunakan jalur aman, mereka harus memutar sejauh 15 hingga 20 kilometer melalui jembatan rangka baja Lawe Penanggalan di Kecamatan Ketambe. Rute memutar ini otomatis memicu lonjakan tarif ongkos transportasi. Beban hidup warga semakin berat seiring meroketnya harga kebutuhan pokok di pasaran, mulai dari gas elpiji, beras, minyak goreng, hingga barang-barang lainnya.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan sektor pertanian. Harga komoditas hasil bumi warga setempat justru anjlok drastis. Padahal sebelumnya, harga jual getah karet, cokelat, padi, jagung, hingga ikan tangkapan warga sudah mulai membaik. Kini, masyarakat Darul Hasanah hanya bisa gigit jari dan pusing tujuh keliling menghadapi roda perekonomian yang mendadak lumpuh total. (Jaminan)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi."
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar
𝐀𝐩𝐚 𝐓𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐝𝐚??