E8lLixHRDGb1xRnfaGQAOqap3MrzuUX2KzUNPsqv
Bookmark

PT. GMK Diduga Abai CSR, Warga Air Bangis Protes, Wartawan Malah di Ancam

PASAMAN BARAT // KoreksiNews
- Seorang wartawan di ancam setelah beritakan PT. Gamindra Mitra Kesuma, (GMK), yang di duga abai CSR warga Poros, Nagari Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas 13 September 2025.

Gegap gempita ekspor bijih besi dari Nagari Air Bangis memang mencengangkan. Sekali angkut, ribuan ton mineral berharga itu dikirim ke luar negeri, dengan nilai miliaran rupiah.

Namun, di balik kilau keuntungan fantastis, warga lingkar tambang justru terjebak dalam derita: jalan rusak, debu tambang, suara bising Alat berat ekscavator dan fasilitas publik yang memprihatinkan.

Ironi ini menohok nurani. Perusahaan panen laba, sementara masyarakat sekitar justru memikul beban.CSR Minimalis, Keadilan Sosial ditinggalkan dan tidak mendapat perhatian.

Investigasi LSM P2NAPAS menemukan, kontribusi Corporate Social Responsibility (CSR) PT. GMK terkesan hanya formalitas. Alih-alih program berkelanjutan untuk kesejahteraan warga, dana CSR lebih sering dihabiskan untuk kegiatan seremonial singkat.

“Kalau sekali angkut nilainya puluhan miliar, apa salahnya sebagian dialokasikan untuk memperbaiki jalan desa atau membantu sekolah? Jangan hanya menguras bumi, tapi meninggalkan luka bagi masyarakat,” tegas Ahmad Husein Batu Bara, Ketua Umum LSM P2NAPAS – Perkumpulan Pemuda Nusantara Pas-Aman.

Perhitungan lembaga itu menunjukkan CSR PT. GMK bahkan tidak menyentuh 1% dari nilai potensi ekspor tahunan. Padahal, UU Nomor 40 Tahun 2007 mewajibkan perusahaan pengelola sumber daya alam menunaikan CSR sebagai bagian dari tanggung jawab hukum dan moral.

Kritik terhadap perusahaan ternyata bukan hanya diabaikan, tetapi juga dibalas dengan intimidasi. Seorang wartawan dari presisimedia.com menerima pesan ancaman dari oknum Humas PT. GMK pasca pemberitaan kritis:

“Besok kawan-kawan saya akan cari kamu. Kami dari nagari ini sedangkan kamu tidak, tolong kamu sadari itu. Kalau tidak itu terserah kamu, pesan saya kamu harus bertingkah baik-baik saja tinggal di nagari ini ”, tulisnya melalui pesan singkat WhatsApp, (13/9).

Pesan bernada teror ini langsung menuai kecaman. Dunia usaha modern yang baik seharusnya menjunjung prinsip keterbukaan, dialog, dan kemitraan dengan media—bukan mengintimidasi insan pers yang menjalankan fungsi kontrol sosial.

Truk tambang lalu lalang tanpa henti, meninggalkan jalan berlubang, becek kala hujan, dan berdebu di musim panas. Anak-anak sekolah harus berjalan di jalur rusak setiap hari, sementara fasilitas pendidikan dan kesehatan tetap jauh dari harapan.

“Setiap kali kapal besar berangkat membawa ribuan ton bijih besi, hati kami teriris. Kami hanya dapat jalan rusak dan janji kosong. Sementara perusahaan terus panen keuntungan,” ungkap seorang warga Air Bangis dengan nada getir.

LSM P2NAPAS mendesak PT. GMK agar segera menunaikan kewajiban sosial secara nyata. Perbaikan jalan, dukungan pendidikan, dan layanan kesehatan harus menjadi prioritas.

“CSR bukan sekadar laporan di atas kertas. Itu wujud nyata keadilan sosial bagi masyarakat. Jika perusahaan tetap abai, kami siap membawa kasus ini ke ranah hukum dan mendesak aparat menindak praktik bisnis yang tak berimbang dengan kontribusi sosial,” tutup Ahmad Husein.( Tim )
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar
BAGAIMANA MENURUT ANDA