E8lLixHRDGb1xRnfaGQAOqap3MrzuUX2KzUNPsqv
Bookmark

Banjir Gayo Lues: Guru dari Papua dan Alumni SM-3T Salurkan Bantuan di Tengah Jalur Terisolasi

GAYO // KoreksiNews
- Pasca banjir besar yang melanda Gayo Lues, bantuan terus mengalir dari berbagai penjuru. Salah satu jalur penyaluran yang kini menjadi tumpuan adalah jalur Terangun–Aceh Barat Daya (Abdya), yang meski rawan longsor dan penuh lubang, menjadi satu-satunya akses keluar-masuk bahan pokok bagi masyarakat terdampak. Senin(08/12/2025).

Holonk Wushu, seorang guru SDN 4 Terangun sekaligus relawan, menceritakan perjuangan menyalurkan bantuan. “Walaupun kami sendiri terdampak, kami tetap ingin berbagi. Bantuan kami salurkan sebisa mungkin,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya perhatian pemerintah terhadap kondisi jalan yang rusak parah, karena menghambat distribusi bahan pokok ke warga terdampak.

Bantuan kali ini datang dari berbagai sumber, termasuk rekan-rekan guru dari Papua dan alumni program SM-3T Universitas Negeri Yogyakarta angkatan V yang pernah mengabdi di Gayo Lues. Holonk menjelaskan, “Saya membuat video kondisi bencana di Tripe Jaya: rumah hancur, jembatan putus, lahan pertanian tersapu banjir. Rekan-rekan yang melihat langsung tergugah dan ingin membantu. Mereka mempercayakan saya untuk menyalurkan bantuan secara langsung.”

Di lapangan, penyaluran bantuan penuh risiko. Holonk harus melewati jembatan putus dengan hanya berpegangan tali besi melintasi sungai deras dan keruh. Di salah satu titik, ia bertemu warga yang rumahnya hancur total dan berencana tinggal di kebun. Bantuan untuk membeli BBM pun diberikan agar warga tetap bisa bertahan.

Bantuan yang disalurkan mencakup kebutuhan pokok dan BBM, berasal dari berbagai pihak termasuk guru-guru dari Papua, alumni SM-3T UNY angkatan V, dan guru-guru dari Jawa. Holonk juga menekankan pentingnya perhatian pemerintah terhadap akses jalan di daerah tersebut. “Jalur Terangun–Abdya adalah satu-satunya jalur yang bisa kami gunakan untuk keluar-masuk bahan pokok. Banyak titik longsor dan jalan berlubang, sehingga perlu penanganan serius agar jalur ini tidak terputus,” jelasnya.

Hingga kini, bantuan telah mulai disalurkan secara bertahap. Semangat gotong royong guru-guru ini menjadi bukti kepedulian tenaga pendidik terhadap masyarakat, bahkan di saat mereka sendiri terdampak bencana. Situasi di Gayo Lues masih memerlukan perhatian serius, baik dari pemerintah maupun masyarakat luas, karena jalur logistik utama yang menghubungkan wilayah terdampak dengan luar daerah masih rawan terputus akibat longsor.
(Kang Juna - Seputar Gayo Lues)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar
BAGAIMANA MENURUT ANDA