Fenomena Pasca Bencana di Sumatera, Pedagang Eceran BBM Dadakan Bermunculan di Kota Gunungsitoli, Harga Melambung Tinggi
Koreksi News
... menit baca
![]() |
| Foto Ilustrasi |
Pantauan di lapangan menunjukkan pemandangan memilukan di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kota Gunungsitoli. Antrean sepeda motor dan mobil mengular hingga ke badan jalan, memakan waktu berjam-jam, sementara SPBU kerap terpaksa tutup lebih cepat karena stok BBM habis. Kelangkaan ini membuka celah bagi munculnya fenomena pedagang eceran dadakan yang menjual Pertalite dengan harga selangit.
"Ini sudah tidak masuk akal. BBM di pinggir jalan dijual seharga Rp30 ribu untuk botol air mineral ukuran 1.500 ml, dan yang ukuran 600 ml dijual Rp13 ribu," keluh salah seorang pengendara yang mengaku terpaksa membeli BBM eceran demi bisa bekerja dan untuk aktivitas sehari-hari.
Harga yang dipatok pedagang eceran ini hampir 3 kali lipat dari harga normal subsidi, menambah beban hidup masyarakat yang sudah terimpit kenaikan harga bahan pokok.
Di saat yang sama, komoditas pangan juga menunjukkan tren kenaikan harga yang mengkhawatirkan. Terputusnya akses transportasi dari Sumatera Utara jalur utama pasokan logistik Nias membuat biaya angkut melambung tinggi, dan dampaknya langsung dirasakan oleh konsumen.
"Semua harga naik, dari beras sampai cabai. Sekarang BBM juga mencekik begini. Mau tidak mau kami beli, kalau tidak motor mati, bagaimana mau cari nafkah?" tambah Ibu Rina dengan nada frustrasi.
Masyarakat berharap Pemerintah Daerah dan aparat penegak hukum segera bertindak tegas. Warga mempertanyakan dari mana para pedagang eceran dadakan ini bisa mendapatkan pasokan BBM dalam jumlah besar, sementara masyarakat umum harus antre berjam-jam dan SPBU cepat kehabisan stok.
"Kami minta pihak terkait seperti Pemerintah Kota Gunungsitoli, Polres Nias dan Pertamina untuk menertibkan para pedagang eceran ini dan menyelusuri dari mana mereka dapat BBM tersebut. Jangan biarkan ada praktik penimbunan di tengah kesulitan masyarakat," tegasnya, menyuarakan harapan ribuan pengendara di Kepulauan Nias.
Situasi ini menuntut respons cepat dari pemerintah untuk menjamin kelancaran pasokan logistik dan menindak tegas oknum yang mengambil keuntungan di atas penderitaan korban bencana.(Red).
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
