E8lLixHRDGb1xRnfaGQAOqap3MrzuUX2KzUNPsqv
Bookmark

Bentengi Generasi Muda, DP5A Kota Gunungsitoli Bekali Guru Cegah Radikalisme hingga Eksploitasi Anak

GUNUNGSITOLI // KoreksiNews
- Tantangan menjaga tumbuh kembang anak di era digital kini semakin kompleks. Mulai dari ancaman kekerasan, perdagangan orang, pernikahan dini, hingga bahaya laten radikalisme mengintai generasi muda.

Merespons fenomena ini, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Kota Gunungsitoli bergerak cepat dengan menggelar Sosialisasi Pencegahan Terorisme, Radikalisme, dan Eksploitasi Perempuan dan Anak pada Kamis (18/06/2026).

Berlangsung di Ruang Rapat DP5A, kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari langkah nyata Program Perlindungan Khusus Anak guna menggerakkan masyarakat dalam memutus mata rantai kekerasan terhadap anak.

Fokus utama dari sosialisasi ini adalah menguatkan kapasitas para pendidik. Sebanyak 34 perwakilan Sekolah Ramah Anak (SRA) se-Kota Gunungsitoli dihadirkan dengan satu tujuan besar: menjadi agen perubahan yang sensitif dan protektif terhadap anak didik.

Kepala Dinas P5A Kota Gunungsitoli, Wilser Juliadi Napitupulu, S.Si., Apt., MPH, menegaskan bahwa ilmu yang didapat dalam forum ini harus menjadi aksi nyata di lapangan.

"Kami berharap materi hari ini tidak berhenti di ruangan ini. Tolong diteruskan dan diterapkan di sekolah masing-masing. Manfaatnya harus dirasakan langsung oleh anak-anak kita dan lingkungan sekolah," ujar Wilser dalam sambutannya.

Melalui sosialisasi ini, para guru dibekali kemampuan untuk:

* Mendeteksi Dini: Mengenali perubahan perilaku anak dan tanda awal masalah sosial secara cepat.
* Literasi Digital: Memahami risiko dunia maya dan mengedukasi siswa agar bijak berinternet.
* Penguatan Karakter: Mengintegrasikan nilai toleransi, moderasi, dan wawasan kebangsaan ke dalam proses belajar-mengajar.

Untuk memastikan tujuan sosialisasi tercapai secara aplikatif, DP5A menghadirkan dua pakar yang kompeten di bidangnya yakni Reni Cahya Mutiasari (Pimpinan Kandang Boekoe) yang mengupas tuntas cara bijak di ruang digital serta strategi mengenali dan mencegah Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO).

Kemudian, Seni Kariawati Laiya, MA, M.Psi., Psikolog (Founder RKR Datatuwu) yang nembedah peran krusial guru yang tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai konselor tempat anak merasa aman untuk bercerita.

Suasana sosialisasi hidup dan interaktif saat sesi diskusi dimulai. Para guru antusias membagikan tantangan nyata yang mereka hadapi di sekolah mulai dari kasus perundungan (bullying), kecanduan media digital, hingga ancaman pernikahan anak. Kedua narasumber pun langsung memberikan solusi taktis dan strategi psikologis yang bisa langsung diterapkan para guru.

Melalui agenda ini, Pemerintah Kota Gunungsitoli menegaskan kembali komitmennya bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Dengan menjadikan guru sebagai garda terdepan, diharapkan lingkungan sekolah bisa menjelma menjadi benteng pertahanan yang aman, sehat, ramah, dan bebas dari segala bentuk eksploitasi.

Sebab, melindungi satu anak hari ini berarti menyelamatkan masa depan Kota Gunungsitoli yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

Editor : Ganda Pasaribu
Sumber : Humas Pemko Gunungsitoli
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi."
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar
𝐀𝐩𝐚 𝐓𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐝𝐚??