Kreatif !! Wartawan Ini Mengolah Tanah Parit dan Botol Bekas Menjadi Kebun Produktif di Lahan Sempit
Koreksi News
... menit baca
GUNUNGSITOLI // KoreksiNews - Di tengah tingginya ketergantungan Kepulauan Nias terhadap pasokan sayur dari luar daerah, seorang wartawan lokal memilih mengambil langkah nyata daripada sekadar berbicara. Ahmad Sabran Jamil Mendrofa berhasil menyulap pekarangan rumah kontrakan dan parit di sekitar lingkungan tempat tinggalnya menjadi sebuah kebun produktif yang diberi nama Agribisnis Kebun Kreatif Jurnalis. Jumat(17/07/2026).
Gerakan swadaya yang berlokasi di Jalan Raya Gunungsitoli–Afia No. 517, Dusun III Umbu, Desa Olora, Kecamatan Gunungsitoli Utara ini menjadi bukti bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk membangun ketahanan pangan. Dengan kreativitas dan semangat pantang menyerah, Ahmad membuktikan bahwa pekarangan sempit pun dapat menghasilkan manfaat besar bagi keluarga dan masyarakat.
Berangkat dari keprihatinannya terhadap tingginya ketergantungan pasokan sayur dari luar Pulau Nias, Ahmad memulai gerakan sederhana namun memiliki visi besar. Ia menargetkan penanaman 110 batang untuk setiap jenis komoditas baru sebagai simbol dukungan terhadap layanan publik Call Center Polisi 110, sekaligus mengajak masyarakat lebih peduli terhadap ketahanan pangan.
Saat ini, sebanyak 101 polibag kacang panjang telah tumbuh dan dirawat dengan baik. Dalam waktu dekat, ia berencana menambah sedikitnya sepuluh jenis sayuran lainnya untuk memperkaya hasil panen dari kebun kreatif tersebut.
Perjalanan hidup Ahmad sendiri penuh dengan dinamika. Sebelum menekuni dunia jurnalistik sebagai wartawan, ia pernah mengabdikan diri sebagai tutor transmigrasi di Aceh Utara pada periode 1995–2000 sebelum melanjutkan perjalanan hidup ke Provinsi Riau.
Setelah itu, Ahmad mencoba peruntungan sebagai pengusaha di bidang konstruksi kaca dan aluminium. Namun, badai pandemi Covid-19 membuat usahanya terpuruk hingga akhirnya harus berhenti beroperasi.
Kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah. Sebaliknya, pengalaman itu menjadi titik balik yang membawanya kembali ke tanah kelahirannya di Pulau Nias. Di kampung halaman, ia memilih membangun harapan baru melalui sektor pertanian dengan keyakinan bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil.
Menghadapi karakteristik tanah di wilayah utara Kota Gunungsitoli yang tidak mudah diolah, Ahmad menerapkan berbagai inovasi sederhana. Ia menggunakan polibag berukuran 35 x 40 sentimeter dengan berat media tanam sekitar lima kilogram agar lebih mudah dipindahkan dan dirawat.
Persoalan keterbatasan air pun tidak menjadi alasan untuk berhenti. Dengan memanfaatkan botol plastik bekas yang dikumpulkan dari sekitar lingkungan Mapolres Nias, Ahmad merakit sistem irigasi tetes sederhana sehingga setiap tanaman tetap memperoleh suplai air secara efisien.
Inovasi lainnya terlihat dari cara memperoleh media tanam. Ahmad membersihkan endapan tanah kompos yang menyumbat parit di sepanjang jalan desa. Tanah tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai media tanam yang subur.
Langkah ini tidak hanya memberikan manfaat bagi pertumbuhan tanaman, tetapi juga membantu memperlancar saluran air sehingga mengurangi potensi genangan dan banjir saat hujan deras melanda Dusun III Desa Olora. Seluruh polibag ditata rapi menggunakan pola menyerupai domino sehingga terlihat bersih, teratur, dan tetap sedap dipandang.
Meski tinggal di rumah kontrakan dengan lahan yang terbatas, Ahmad terus mengoptimalkan setiap sudut pekarangan melalui teknik tumpang sari. Penggunaan polibag sengaja dipilih agar tanaman pangan tidak mengganggu tanaman hias maupun rumput Jepang milik pemilik rumah.
Baginya, kebun sayur tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga mampu mempercantik lingkungan. Setiap musim tanam menghadirkan warna dan kehidupan baru yang membuat halaman rumah terasa lebih asri dan produktif.
Jamil yang juga mantan Humas DPD LSM PKP Pedang Keadilan Perjuangan Kota Gunungsitoli itu pun berharap gerakan kecil yang dirintisnya dapat menginspirasi masyarakat luas.
Ia mengajak setiap kepala keluarga untuk mulai menanam sedikitnya lima polibag dari sepuluh jenis sayuran di pekarangan rumah masing-masing. Menurutnya, apabila gerakan sederhana ini dilakukan secara bersama-sama, ketergantungan Kepulauan Nias terhadap pasokan sayur dari luar daerah dapat dikurangi secara bertahap, sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Namun, di balik semangat tersebut masih ada tantangan yang harus dihadapi. Seluruh kegiatan Agribisnis Kebun Kreatif Jurnalis hingga kini berjalan murni dengan biaya pribadi. Keterbatasan modal menjadi kendala untuk pengadaan bibit, pupuk, dan berbagai peralatan pertanian yang dibutuhkan untuk memperluas budidaya.
Karena itu, Ahmad berharap gerakan yang telah dirintisnya dapat memperoleh perhatian dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Gunungsitoli melalui dukungan program maupun regulasi. Ia juga membuka peluang kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk Polres Nias, agar gerakan ini dapat berkembang menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis pekarangan.
Lebih dari sekadar menanam sayuran, kisah Ahmad Sabran Jamil Mendrofa menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari lahan yang luas atau modal yang besar. Dengan kreativitas, ketekunan, dan kemauan untuk bertindak, sebidang pekarangan rumah kontrakan pun mampu menjadi simbol harapan, kemandirian pangan, sekaligus inspirasi bagi masyarakat Nias untuk membangun masa depan dari tanah yang mereka pijak.
Editor : Ganda Pasaribu
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi."
Sebelumnya
...
