Jeritan Pilu di Sudut Namlea
Koreksi News
... menit baca
Oleh Amirudin Soamole
Kepala Divisi KoreksiNews Provinsi Maluku
Di Namlea pagi yang biasanya ramai kini berubah muram Jalan raya hanya diisi kendaraan yang mengular panjang di depan SPBU menunggu bahan bakar yang tak kunjung datang Di pasar wajah wajah letih terlihat di balik lapak Ada ibu penjual gorengan yang terpaksa menghentikan dagangannya karena minyak tanah melonjak menjadi sepuluh ribu per liter tiga kali lipat dari harga resmi
Bagi orang Buru bahan bakar bukan sekadar cairan untuk mesin namun Bbm adalah denyut kehidupan perahu nelayan yang butuh solar truk pengangkut hasil panen yang menunggu pertalite hingga kompor minyak tanah di dapur rumah rumah sederhana Ketika harga resmi ditetapkan Pertamina rakyat percaya itu menjadi pegangan Namun kenyataan di lapangan berbeda Pertalite tiga belas ribu hingga empat belas ribu per liter solar sembilan ribu hingga sepuluh ribu minyak tanah sepuluh ribu Semua jauh melampaui aturan
Bisik bisik warga menuturkan hal yang sama Mobil tangki yang seharusnya masuk SPBU kerap berbelok ke gudang gudang gelap SPBU pun dituding bermain menjual BBM pada tengah malam kepada mafia minyak Di Gunung Botak minyak tanah disedot untuk tambang emas ilegal Pertalite disimpan oleh pengantri lalu dijual kembali dengan harga tinggi Solar dialihkan ke perusahaan konstruksi Semua terang terangan semua orang tahu tapi tak ada tindakan
Kami ini bukan tidak tahu ujar seorang Sopir Oto di Simpang Lima Namlea Matanya basah suaranya getir Penimbunan terjadi di depan mata tapi tetap dibiarkan Hidup makin susah air mata sudah habis Namun Penimbunan tak pernah ada Habis nya.
Krisis ini menjepit semua lapisan ASN terhambat bekerja karena kendaraan tak bisa jalan Petani menjerit karena biaya angkut hasil panen membengkak Nelayan kehilangan hari hari melaut Buruh dan pedagang harus menanggung harga barang pokok yang melambung Beras di sini sudah hampir sama dengan Papua keluh seorang warga dengan nada putus asa
Dan di tengah antrean panjang itu terselip kisah getir dua sahabat sekampung Yako dan Keda Mereka tinggal di pesisir Namlea berjuang mengubah nasib dengan menjadi tukang ojek Dengan penuh harapan keduanya mengkredit motor DP tiga jutaan setoran per bulan lebih dari sejuta Namun apa daya hidup mereka kandas di tengah jalan
BBM naik terus antrean panjang penghasilan kami habis hanya untuk beli bensin keluh Yako Motornya kini sudah disita diler karena tiga bulan berturut turut ia tak mampu menyetor cicilan
Nasib Keda pun tak jauh berbeda Karena tak sanggup lagi menafkahi istri dan anak kecilnya ia terpaksa menyuruh keluarganya pulang ke rumah orang tua istrinya Nanti kalau motor lunas kalau luka ini sembuh barulah istri kembali begitu katanya Tapi harapan itu runtuh sebab motor yang jadi tumpuan hidup sudah raib ditarik diler
Yako dan Keda bukan hanya kehilangan kendaraan Mereka kehilangan martabat kehilangan harapan yang mereka rajut dengan berani Kredit motor yang awalnya membawa mimpi kini hanya meninggalkan luka dan penyesalan
Di depan SPBU Namlea antrean kendaraan menjalar hingga ratusan meter Sopir truk berpeluh di balik kemudi tukang ojek terkulai di jok motor dan ada pula yang tertidur beralas koran di pinggir jalan Panas matahari terasa seperti api yang membakar ubun ubun namun tak ada pilihan selain menunggu
Seorang pemuda berteriak kesal Sudah empat jam kami di sini belum juga giliran Teriakan itu tenggelam dalam deru mesin yang dipanasi takut mati sebelum sampai ke pompa Di sisi lain di beda Tempat Lokasi Perumnas Desa Lala beberapa ibu membawa jerigen wajahnya penuh harap karena tanpa minyak tanah dapurnya tak lagi berasap, namun apalah daya nasip apes slalu menyertai jangan kan antri melihat ampas Minyak pun tak bisa di karenakan Antrian Berjubel belum saja maju dia langkah minyak tanah pun habis
Terbeli, lengkap sudah penderitaan Ini.
Artikel ini bukan sekadar soal BBM namun ini adalah Artikel Kehidupan sebab Pondasi ekonomi di suatu Daerah bertumpuk pada Langkah tidaknya Kelancaran BBM, Batu untuk pondasi rumah yg awalnya seharga 650 ribu Per Ret(Damtruck) kini telah naik hingga 1,200,000 ribu bayangkan bagaimana anak anak kita bisa membangun. Beras yg per kg nya 10,ribu, kini naik hingga 14,ribu Lalu siapa yg mau di salahkan, aya tidak tau pasti siapa yg mau di salahkan
Namun yg jelas Tuhan tidak Bersalah.
Di sudut kota di beberapa tempat Orang orang menunggu giliran bukan hanya untuk mengisi tangki tapi untuk menyambung penghidupan mereka Ada yang menunggu demi bisa kembali melaut ada yang menunggu demi mengantar anak sekolah ada yang menunggu demi bisa menjemput rezeki hari itu
Kelebihan orang Kabupaten Buru adalah mereka Orang baik Arif penyayang dan sangat bersabar
orang Buru tidak berteriak di jalanan Mereka memilih diam Mereka percaya pada pemerintah kabupaten dan provinsi Namun diam bukan berarti buta Diam bukan berarti bodoh Sejak Gunung Botak ditambang manual pada dua ribu sebelas empat belas tahun rakyat Buru telah menunggu keadilan Yang datang hanyalah janji yang tak pernah ditepati
Sesekali operasi pasar digelar Kamera menyorot pejabat berbicara Tetapi setelah spanduk diturunkan rakyat tetap mengantri harga tetap tinggi mafia tetap berkuasa Operasi pasar hanya formalitas tak pernah menyentuh inti masalah
Hari ini masyarakat tidak butuh lagi pidato atau surat edaran Mereka menuntut tindakan nyata berantas penimbunan awasi SPBU tindak mafia minyak tanpa pandang bulu dan hadirkan operasi pasar yang benar benar menyentuh rakyat
Kondisi darurat ini tak bisa dijawab dengan janji Bupati Buru dan Gubernur Maluku harus turun tangan langsung Karena di Namlea di pasar di kampung di jalanan orang orang kecil sudah kehabisan cara bertahan
Pulau Buru kini hidup dalam bayangan kelam yang bukan datang dari takdir melainkan dari kesengajaan Pertanyaan rakyat sederhana namun menikam sampai kapan kami harus hidup dalam kegelapan yang sengaja diciptakan.
Daripada saya diam melihat ketimpangan ini
Biarlah saya Berjuang biarlah Aku mengisahkan apa yg terjadi di negri ini semoga ini bermanfaat Bagi bagi Masyarakat Pulau Buru terkhusus Kab Buru.
Semoga Kisah ini menyentuh hati para Mafia
Menyentuh hati para penegak hukum.
Menyentuh hati Pemerintah Daerah.
Moga Di Semogakan.
Amin.
"Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan sikap pribadi penulis dan bukan cerminan sikap Redaksi."
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
