Menyalakan Terang di Peristirahatan Terakhir: Ikhtiar Sunyi Irawati
Koreksi News
... menit baca
NAMLEA // KoreksiNews - Di turunan tanjakan Kota Namlea, sebuah Tempat Pemakaman Umum berdiri dalam sunyi, memeluk ribuan kisah yang telah usai. TPU Namlea yang terbagi dua dan hanya dipisahkan oleh jalan selama ini seolah luput dari perhatian, padahal di sanalah manusia terakhir kali diserahkan kepada bumi. Dari kesunyian itulah Irawati, Ketua IKatan Perempuan Ikhlas Buru (IPIB), menghadirkan sebuah ikhtiar yang bukan sekadar membersihkan makam, tetapi mengetuk kesadaran iman.
Langkah membersihkan TPU Namlea adalah seruan batin, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada Sang Pencipta. Di antara nisan yang berlumut dan tanah yang lama tak terjamah, terselip pesan Ilahi: kullu nafsin dzāiqatul maut—setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Inisiatif ini menjadi pengingat bahwa hidup hanyalah perjalanan singkat menuju perjumpaan abadi dengan Ilahi Rabbi.
Irawati menegaskan, gerakan IKHLAS bukanlah singkatan yang lahir dari kepentingan politik atau ambisi kekuasaan. IKHLAS adalah nilai. Ia tumbuh dari hati perempuan-perempuan Buru yang memilih berbuat karena iman, bukan karena panggung. Dalam kepengurusan dan keanggotaannya, IKHLAS dihuni oleh wanita-wanita yang menyatukan niat dalam satu tujuan: beramal tanpa berharap balasan selain ridha Allah SWT.
Tak berhenti pada kebersihan, Irawati juga merencanakan pemasangan lampu penerangan di area pemakaman. Cahaya itu diharapkan menjadi penolong bagi para peziarah yang datang di malam hari, sekaligus menjadi benteng moral agar kawasan suci ini tidak lagi disalahgunakan oleh anak-anak muda untuk perbuatan yang menjauhkan mereka dari nilai agama. Sebab terang bukan hanya soal lampu, tetapi juga tentang menjaga adab dan kesucian tempat peristirahatan terakhir manusia.
Apa yang dilakukan Irawati adalah dakwah bil hal dakwah melalui perbuatan nyata. Ia mengajarkan bahwa ibadah tidak selalu berbentuk kata-kata, tetapi juga hadir dalam sapu, cangkul, dan niat yang lurus. Langkah ini patut menjadi teladan dan diikuti oleh semua pihak: pemerintah, komunitas, dan masyarakat luas. Karena memuliakan makam sama artinya dengan memuliakan kemanusiaan, dan menjaga kuburan adalah bentuk penghormatan terhadap takdir yang kelak akan kita alami bersama.
Semoga ikhtiar ini menjadi amal jariyah, mengalirkan pahala tanpa putus, dan menjadi cahaya pengingat bagi kita semua bahwa suatu hari nanti, kita pun akan kembali, berbaring di tanah yang sama, menghadap Ilahi Rabbi dengan membawa bekal amal semata (2R)
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
