E8lLixHRDGb1xRnfaGQAOqap3MrzuUX2KzUNPsqv
Bookmark


Krisis BBM, Warga Gayo Lues Tercekik Antrean Panjang: Pemuda Muhammadiyah Soroti Peran Forkopimda

GAYO LUES // KoreksiNews
- Lebih dari dua bulan pascabencana hidrometeorologi yang melanda sebagian besar wilayah Sumatera dan Aceh, dampaknya masih menghantui kehidupan masyarakat, khususnya di Kabupaten Gayo Lues. Daerah yang dijuluki Negeri Seribu Bukit dan Seribu Hafiz itu kini menghadapi krisis serius: kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang memicu antrean panjang, kemacetan, dan keresahan sosial.

Warga yang memiliki kendaraan bermotor baik roda dua, tiga, maupun empat mengaku kesulitan mendapatkan BBM. Antrean pembelian minyak kian hari kian mengular, bahkan kerap memakan badan jalan, mengganggu aktivitas ekonomi warga sekitar, dan memicu ketegangan antarwarga. BBM yang seharusnya menjadi penopang mobilitas justru berubah menjadi sumber konflik dan kegelisahan publik.

Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Gayo Lues, Rahmat Saleh, angkat suara. Pada Minggu, 8 Februari 2026, ia secara tegas meminta Forkopimda Gayo Lues untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi tampil aktif dalam pengawasan dan pendistribusian BBM.

“Antrean semakin panjang, keresahan makin terasa, dan masyarakat kecil yang paling terdampak. Forkopimda harus hadir secara nyata, bukan hanya simbolik. Pengawasan dan distribusi BBM harus dikontrol ketat agar tidak terjadi ketimpangan dan permainan di lapangan,” tegas Rahmat Saleh.

Ia menilai, tanpa pengawasan yang serius, distribusi BBM berpotensi dikuasai oleh segelintir pihak, sementara masyarakat umum justru terpinggirkan dan tidak kebagian antrean. Situasi ini, menurutnya, bukan hanya persoalan teknis distribusi, tetapi sudah menyentuh dimensi keadilan sosial.

Rahmat Saleh juga mengingatkan dimensi moral dan spiritual dalam kepemimpinan:
“Dalam ajaran Islam, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin. Ini bukan sekadar soal kebijakan, tapi soal amanah. Jika rakyat menderita, maka itu akan menjadi beban pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.”

Tak hanya kepada pemerintah, ia juga menyampaikan pesan keras namun humanis kepada masyarakat:

“Jangan berbuat zalim kepada saudara sendiri. Kalau sudah dapat BBM, beri kesempatan kepada yang lain. Jangan serakah. Kita sedang diuji, bukan untuk saling sikut, tapi untuk saling jaga.”

Krisis BBM di Gayo Lues hari ini bukan lagi isu logistik semata. Ia telah berubah menjadi krisis tata kelola, krisis keadilan, dan krisis empati sosial. Jika Forkopimda tidak segera mengambil langkah tegas dan terkoordinasi—mulai dari pengawasan distribusi, penertiban antrean, hingga transparansi suplai—maka keresahan ini berpotensi menjadi konflik sosial yang lebih luas.

Gayo Lues sedang tidak butuh janji.
Yang dibutuhkan adalah aksi cepat, kebijakan tegas, dan keberpihakan nyata pada rakyat.
Karena di tengah krisis, negara tidak boleh absen.
Dan pemimpin tidak boleh diam.(Kang juna)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar
Berikan Tanggapan Anda!!!