E8lLixHRDGb1xRnfaGQAOqap3MrzuUX2KzUNPsqv
Bookmark

Musim Hujan, 80 Persen Gangguan Listrik dari Pohon, JPKP Ajak Desa dan PLN Perkuat Kolaborasi

GUNUNGSITOLI // KoreksiNews
- Memasuki musim hujan, masyarakat di Kepulauan Nias perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan kelistrikan. Salah satu penyebab yang kerap luput dari perhatian adalah keberadaan pohon dan tanaman tinggi yang tumbuh terlalu dekat dengan jaringan listrik.

Koordinator Wilayah JPKP Kepulauan Nias, Imansius Telaumbanua mengatakan bahwa sebagian besar gangguan listrik di wilayah Nias berkaitan dengan tanaman warga yang berada di sekitar jaringan listrik, seperti pohon kelapa, durian, karet, pinang, maupun pepohonan hutan lainnya.

“Di musim hujan ini, listrik tidak akan pernah baik-baik saja kalau persoalan pohon dekat jaringan listrik tidak kita atasi bersama. Gangguannya sekitar 80 persen berasal dari tanaman warga yang berada di sekitar jaringan,” ujar Imansius.Sabtu(15/08/2026).

Menurutnya, persoalan tersebut sebenarnya dapat diminimalkan apabila terdapat kolaborasi antara PLN, pemerintah desa dan masyarakat. Penanganan pohon yang berpotensi mengganggu jaringan listrik tidak harus selalu menunggu terjadi pemadaman atau pohon tumbang.

Imansius mencontohkan langkah yang telah dilakukan oleh Desa Hilimbowo Olora dan Desa Onoziroli Olora. Kedua desa tersebut dinilai telah memiliki program penebangan atau pemangkasan pohon yang berada dekat jaringan listrik dengan berkoordinasi bersama PLN untuk melakukan pemadaman sementara sebelum pekerjaan dilakukan.

Biaya yang dikeluarkan melalui program desa tersebut, menurut Imansius, relatif kecil, berkisar sekitar Rp2 juta hingga Rp5 juta. Namun, manfaatnya dinilai cukup besar karena pohon-pohon yang berpotensi mengganggu jaringan dapat ditangani sekaligus mengurangi risiko terhadap masyarakat.

“Tidak besar sekali biayanya, tetapi pohon-pohon yang dekat jaringan listrik bisa dibereskan. Warga juga lebih nyaman melewati jalan pada malam hari dan risiko pohon tumbang mengenai rumah atau pemukiman dapat dikurangi,” kata Imansius yang juga Wakil Ketua DPD JPKP Sumut. 

JPKP mengapresiasi langkah kedua desa tersebut karena dinilai telah menunjukkan kesadaran bahwa keberadaan pohon yang terlalu dekat dengan jaringan listrik bukan hanya persoalan PLN, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat.

Menurutnya, Keberadaan pohon tinggi di sekitar jaringan listrik memiliki sejumlah risiko. Ketika terjadi hujan deras dan angin kencang, dahan atau batang pohon dapat menyentuh jaringan, menyebabkan gangguan bahkan berpotensi menimbulkan bahaya bagi keselamatan warga.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak menanam pohon yang dapat tumbuh tinggi di bawah atau terlalu dekat dengan jaringan listrik. Pohon yang sudah terlanjur tumbuh dan berpotensi mengganggu jaringan juga sebaiknya tidak ditebang sendiri tanpa koordinasi dengan pihak terkait.

“Di pihak desa juga sudah melarang warga menanam tanaman tinggi dekat jaringan listrik. Ini luar biasa, karena jaringan listrik itu milik kita bersama,” jelas Imansius.

Ia menilai edukasi mengenai keselamatan jaringan listrik perlu dilakukan secara berkelanjutan. PLN bersama pemerintah desa dapat membangun komunikasi dengan masyarakat untuk mengidentifikasi pohon-pohon yang berisiko dan melakukan penanganan sebelum menimbulkan gangguan.

Imansius berharap program seperti yang dilakukan Desa Hilimbowo Olora dan Desa Onoziroli Olora dapat menjadi contoh bagi desa-desa lainnya di Kepulauan Nias.

“Bila semua desa punya program seperti ini, saya yakin kelistrikan kita akan semakin lebih baik ke depan, bahkan manfaatnya bisa dirasakan sampai anak cucu kita,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan kelistrikan tidak dapat hanya dibebankan kepada satu pihak. PLN membutuhkan dukungan pemerintah daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan masyarakat agar sistem kelistrikan dapat berjalan lebih aman dan andal.

Ia mengatakan, Selama 11 tahun, JPKP Kepulauan Nias telah mendampingi PLN dan akan terus menyuarakan pentingnya terwujudnya “Nias Terang”.

Dalam momentum menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Imansius berharap para kepala daerah, camat hingga kepala desa turut menjadikan keselamatan jaringan listrik sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat.

“Sudah saatnya kita melepaskan ego sektoral masing-masing. Listrik ini adalah kebutuhan bersama. Kalau kolaborasi tidak dibangun dengan baik, persoalan pemadaman dan gangguan listrik akan terus kita alami,” tegasnya.

Imansius mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memahami bahwa menjaga jaringan listrik bukan semata-mata tugas PLN. Masyarakat juga memiliki peran penting, terutama dengan tidak menanam atau membiarkan pohon berisiko tumbuh terlalu dekat dengan jaringan listrik serta segera melaporkan kondisi yang berpotensi membahayakan.

“JPKP siap melayani dan terus menyuarakan Nias Terang,” pungkas Imansius Telaumbanua.

Editor: Ganda Pasaribu
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi."
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar
𝐀𝐩𝐚 𝐓𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐝𝐚??