Tuntut Transparansi Izin dan Harga TBS, Gebrakan Jilid II GPM-PALAS Memanas
Koreksi News
... menit baca
PADANG LAWAS // KoreksiNews - Aksi unjuk rasa Jilid II yang digelar oleh Gerakan Pemuda dan Mahasiswa Padang Lawas (GPM-PALAS) di depan kantor Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) PT KAS Ujung Batu Sosa, Kabupaten Padang Lawas, pada Kamis (03/09/2026) berakhir ricuh.
Dialog yang semula diharapkan membawa solusi justru berujung buntu setelah pernyataan manajer perusahaan dinilai memprovokasi massa.
Massa yang terdiri dari puluhan mahasiswa dan warga setempat mulai memadati area pabrik sejak pukul 10.00 WIB. Dilengkapi dengan spanduk, poster, mobil komando, dan pengeras suara, mereka membawa 11 tuntutan utama.
Isu krusial yang disuarakan antara lain transparansi izin operasional, realisasi Corporate Social Responsibility (CSR), dugaan pencemaran Sungai Aek Tinga, serta ketimpangan harga Tandan Buah Segar (TBS) antara petani mitra kontrak dengan petani swadaya kecil.
Situasi mulai memanas ketika massa menolak bernegosiasi dengan pihak Humas PT KAS yang keluar menemui mereka. Pengunjuk rasa berkukuh hanya ingin berbicara langsung dengan manajer perusahaan untuk mendapatkan jawaban konkret.
Lantaran sang manajer tak kunjung menampakkan diri setelah hampir satu jam menunggu, emosi massa pun tersulut. Massa aksi mulai membakar ban bekas di depan gerbang dan mendorong barikade pagar perusahaan hingga nyaris roboh.
Upaya merangsek masuk ke halaman kantor sempat membuat situasi mencekam, memaksa aparat keamanan dari Polres Padang Lawas turun tangan melakukan mediasi secara intens.
Setelah pendekatan persuasif oleh kepolisian, manajemen akhirnya bersedia membuka ruang dialog. Namun, perusahaan membatasi hanya lima orang perwakilan GPM-PALAS yang diizinkan masuk ke ruangan manajer.
Di dalam ruangan, suasana formal langsung terasa dingin sekaligus tegang. Ketua Umum GPM-PALAS, Panaekan Hasibuan, langsung melayangkan kritik tajam atas sikap acuh manajer yang dinilai membiarkan aparat kepolisian bersusah payah menenangkan massa di luar.
Manajer PT KAS Ujung Batu Sosa, Suardi, mencoba membela diri dengan pengalamannya selama 30 tahun memimpin perusahaan. Ia berdalih bahwa berdialog di dalam ruangan ber-AC jauh lebih kepala dingin dibanding beradu argumen di lapangan yang rentan memicu emosi.
Namun, suasana "kepala dingin" itu mendadak sirna saat pembahasan menyentuh isu diskriminasi harga TBS. Perwakilan mahasiswa mencecar dugaan bahwa TBS dari pihak yang memiliki "jalur khusus" dengan manajemen dihargai jauh lebih mahal ketimbang milik petani kecil.
Merespons tudingan tersebut, Manajer Suardi melontarkan pernyataan menohok.
"Kalau tidak suka, ya kita tidak ada paksaan untuk datang ke perusahaan PMKS PT KAS ini. Kan masih ada perusahaan lain seperti PT MSB, silahkan pergi ke sana, jangan datang ke sini."
Kalimat tersebut bak menyiram bensin ke dalam api. Merasa direndahkan, Panaekan Hasibuan spontan memukul meja dengan keras dan melayangkan protes keras.
"Masalah usaha, jangan samakan UMKM dengan perusahaan besar seperti ini! Di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini kita mempunyai regulasi yang harus diikuti, maka laksanakan itu secara adil dan bijaksana! Perusahaan ini hadir di tengah masyarakat harusnya memberikan kesejahteraan, khususnya warga sekitar Sosa. Pernyataan Anda itu tidak bagus, tolong diperbaiki kalimatnya!" tegas Panaekan.
Kecewa berat dengan sikap manajemen yang dinilai arogan, Panaekan bersama seluruh delegasi langsung berdiri dan melakukan aksi walk out tanpa berpamitan.
Dialog yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut berakhir total tanpa kesepakatan maupun titik temu. Di luar gedung, massa aksi yang menerima laporan hasil pertemuan langsung membubarkan diri dengan tertib, namun membawa kekecewaan mendalam atas respons perusahaan terhadap nasib petani kecil di sekitar Sosa..(PH).
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi."
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
